I am (not) a perfect Bunda


Banyak orang yang bilang kalau #usiacantik di mulai di usia 35 tahun. Usia dimana kita sudah menemukan jati diri yang membuat kita menjadi wanita yang lebih sempurna.
Namun, itu tidak berlaku untuk saya. Di usia 35 tahun, saya malah kehilangan jati diri saya dan sempat mengalami post partum depression. Saya tidak akan mempercayainya jika sebelumnya, saya mendengar orang bisa mengalami post partum depression. Namun ternyata…. saya malah mengalaminya sendiri.

pic dari pixabay.com

Semuanya berawal dari kehamilan saya. Saya akhirnya hamil setelah sepuluh tahun lebih menanti kehamilan tersebut. Seperti hampir semua wanita yang mendengar tentang kehamilannya, sayapun sangat sukacita mengenai kehamilan saya. Namun tidak seperti kebanyakan wanita hamil lainnya, kehamilan saya cukup sulit.
Di awal kehamilan, saya harus mengalami mual muntah parah hingga hiperemesis dan harus bolak balik di rawat di Rumah sakit. Belum genap sebulan saya pulih dari hiperemesis ketika saya terkena demam berdarah hingga kembali di rawat di rumah sakit untuk kesekian kalinya.
 

Pic dari google

Usia kandungan saya baru memasuki enam bulan saat dokter kandungan memutuskan untuk mengikat jalan rahim saya melalui operasi kecil. Tindakan tersebut diperlukan karena posisi kandungan saya yang berada dibawah sehingga dikhawatirkan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Sayapun kembali masuk ke rumah sakit untuk tindakan operasi.
Setiap hari selama kehamilan, saya hanya bisa berdoa dan berusaha berpikir positif mengenai kandungan saya. Namun…selalu ada rasa khawatir akan keselamatan janin saya, akankah mereka bertahan dan melihat dunia?

Ternyata…anak saya memilih untuk lahir lebih cepat dari waktunya. Mereka lahir saat usia kandungan saya baru menginjak 32 minggu. Mereka lahir dengan berat badan hanya 1,2kg dan 1,7kg. Jibran, anak saya yang lahir terakhir sempat tidak bernapas selama beberapa menit. Namun, syukurlah dia akhirnya bisa bernapas.
 

Almira dan Jibran saat baru lahir di NICU

Jika ibu baru lainnya bisa langsung mendekap buah hatinya, saya tidak dapat melakukan hal tersebut kepada kedua anak saya. Mereka berdua harus langsung diperiksa dan diberikan alat bantu hidup untuk menyelamatkan nyawa mereka.
Saya baru beberapa jam tersadar dari pengaruh obat bius, saat dokter anak memberitahukan kalau bayi saya harus sesegera mungkin diberikan ASI. Asi tersebut diperlukan untuk memeriksa kesiapan saluran cerna mereka. Tidak seperti bayi lainnya yang lahir normal, dikhawatirkan terjadi permasalahan di saluran cerna mereka sehingga harus diperiksa secepat mungkin. Saya tak bisa berkata apa-apa karena saat itu belum ada setetespun ASI yang keluar dari payudara saya.
Tak seperti ibu-ibu lainnya yang lebih mudah mendapatkan donor ASI, saya kesulitan mendapatkan donor ASI untuk kedua anak saya. Maklum saja, anak saya sepasang cowok dan cewek sehingga akan menyulitkan jika saya mendapatkan donor ASI yang tidak punya hubungan keluarga sama sekali.
 

ki:Kangaroo care selama di NICU. ka:Almira masih memakai selang untuk meminum ASI

Alhamdulillah…salah satu sepupu saya baru melahirkan dan bersedia menjadi donor sementara. Ada rasa sedih karena kedua anak saya harus meminum ASI dari orang lain untuk pertama kalinya. Namun, saya tak punya pilihan lain lagi jika saya ingin mereka tetap ASI eksklusif.
Setiap harinya saya hanya bisa berdoa dan berusaha berpikir positif mengenai kondisi kedua anak saya selama mereka ada di NICU. Namun…tetap terselip rasa khawatir melihat keadaan mereka. Mampukah mereka tumbuh sehat dan sempurna seperti bayi-bayi lainnya?
Berbagai kekhawatiran itu membuat saya menjadi ibu yang super protektif. Saya juga ingin menjadi ibu sempurna seperti standar-standar ilmu parenting. Namun ternyata….pendidikan dan pengasuhan 2 orang anak yang memiliki sifat dan kebiasaan yang sangat berbeda seperti langit dan bumi, tidak semudah seperti yang saya baca di berbagai media dan juga berbagai kelas parenting. Mereka boleh berbagi rahim dan sumber makanan disaat yang sama tetapi mereka tidak memiliki sifat yang sama. Hanya satu kesamaan sifat mereka yaitu kekompakan mereka disaat berbuat jahil.
 

Inkubator almira dan jibran di rumah

Hidup saya benar-benar terfokus kepada kedua bayi saya dan keinginan menjadi ibu yang sempurna. Saya tidak pernah berusaha untuk santai sejenak. Keinginan saya yang ingin menjadi ibu sempurna membuat saya berakhir dengan post partum depression. Saya bisa menangis hanya karena hal-hal kecil, selalu khawatir tidak bisa menjadi ibu yang baik, mudah lelah, tidak pernah mengurus diri sendiri, mood yang gampang berubah-ubah dan jadi mudah khawatir berlebihan.

Alhamdulillah…saya akhirnya bisa berangsur-angsur mengatasi post partum depression dengan bantuan suami dan keluarga, setelah hampir beberapa bulan mengalaminya. Saya berusaha untuk keluar dari cangkang saya. Saya yang tadinya tidak pernah bergaul semenjak punya anak, kini mencoba berkenalan dengan orang baru yang memiliki anak di usia yang sama agar kami bisa saling supportdan sharing.
 

Teman-teman baru yang memiliki bayi yg lahir dibulan yang sama

Saya juga mencoba untuk menurunkan standar saya sebagai orang tua dan tidak lagi berusaha idealis mengikuti setiap kata dari ahli-ahli parenting. Saya mencoba berdamai dengan diri saya sendiri dan mensyukuri setiap momen yang ada. Perlahan tapi pasti, saya kembali menemukan jati diri saya.
Saat saya berusaha berdamai dengan diri saya sendiri, saya akhirnya tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik dan dewasa. Saya berusaha menjadi seorang ibu yang bahagia daripada ibu yang sempurna. 

Perawatan muka yang kini saya lakukan juga membantu rasa percaya diri saya. Ternyata…merawat muka dan diri sendiri perlu dilakukan bukan hanya untuk terlihat cantik tapi agar kita nyaman dengan diri kita sendiri. Tidak diperlukan perawatan muka yang mahal asal sesuai dengan jenis kulit kita.

Padahal saya sempat mengabaikan perawatan muka selama beberapa tahun. Kebahagiaan dan rasa percaya diri itupun terpancar dari diri saya yang menyebabkan muka saya juga terlihat lebih segar daripada sebelumnya.
 

kanan: usia 35 tahun Kiri: di usia 38tahun

Di usia saya yang ke 38 tahun, saya tidak lagi ingin mengulang masa lalu dan memperbaikinya. Tetapi, saya cukup belajar dari setiap momen dan pengalaman kehidupan yang telah saya lalui. Pengalaman yang telah membawa saya sampai ke titik ini.
Titik dimana saya bisa lebih percaya diri dan menikmati hidup saya. Titik dimana saya bisa merayakan kehidupan saya selama 38 tahun dan berbagi kisah hidup kepada orang lain. Mungkin…kisah hidup saya bisa menjadi inspirasi untuk seorang calon ibu lainnya hingga tidak mengalami hal yang sama seperti saya

“Lomba blog ini diselenggarakan oleh BP Network dan disponsori oleh L’Oreal Revitalift Dermalift”

  1. Andina

    March 5, 2017 at 4:02 pm

    Inspiratif 🙂 semoga selalu berbahagia dengan keluarga ya mba

  2. Vety Fakhrudin

    December 27, 2016 at 10:57 am

    terharu banget mbak aku bacanya…terutama dibagian yang sampe harus diikat jalan lahirnya. soalnya dulu ada temen sampe 2x keguguran padahal nunggunya juga lama. dan dokter juga sempat hampir melakukan tindakan tersebut

  3. Lisna Ardhini

    December 27, 2016 at 10:57 am

    Sehat-sehat mba lia dan si keciiiil. Di usia cantik mba lia bahkan tambah prestasi di dunia blogging juga yaaa.. Semangat mbaak..

  4. Dhanang Sukmana Adi

    December 27, 2016 at 10:57 am

    pokoknya gedenya sehat walafiat ya mak 🙂

  5. Pakde Cholik

    December 27, 2016 at 10:57 am

    Anak adalah anugerah sekaligus amanah dari Tuhan. Selayaknya para orangtua mengemban amanah itu dengan sebaik-baiknya. Asih, asuh, dan asah anak diniatkan sebagai ibadah agar hasilnya barokah dan selalu on the right track.
    Tak ada orangtua yang sempurna yang penting embanan amanah dilakukan dengan ikhlas dan benar.
    Salam hangat dari Jombang

  6. Nia K. Haryanto

    December 27, 2016 at 10:57 am

    Subhanallah… lika-likunya benar-benar bikin terharu, mbak. Kuat banget dengan semuanya. Alhamdulillah semua teratasi dengan baik. Mbak Lia cantik banget. Gak nyangka kita seumur. Salam buat si kemaren Almira dan Jibran. 🙂

  7. Neisia Larasati

    December 27, 2016 at 10:57 am

    Terharu baca ceritanya Mba :')
    sehat-sehat selalu ya adek Almira & Jibran..

  8. Lia Djabir

    November 27, 2016 at 6:01 am

    bener banget maaak…untung bertemu dgn dirimu n emak2 juliers lainnya

  9. Lia Djabir

    November 27, 2016 at 6:00 am

    wahh syukurlah kalo gak berlangsung lama. smoga disegerakan yaaa

  10. Lia Djabir

    November 27, 2016 at 5:59 am

    iyaa mba…hanya ada ibu sempurna di sosial media hehehe

  11. Lia Djabir

    November 27, 2016 at 5:59 am

    makasi mba 🙂
    iyaa mba…setiap ibu punya kisah masing2

  12. Lia Djabir

    November 27, 2016 at 5:58 am

    amiiin makasi yaa…merawat muka n diri kita sendiri itu harus loh. krn percaya diri itu perlu banget

  13. Lia Djabir

    November 27, 2016 at 5:58 am

    iyaa kak…biar muka cantik tp dalamnya gak cantik, tetap akan terpancar juga

  14. Lia Djabir

    November 27, 2016 at 5:57 am

    harus itu mba wkakkakaka…makasi sdh mampir

  15. Lia Djabir

    November 27, 2016 at 5:57 am

    iyaa pdhal yg paling penting menjadi bahagia dgn semua keadaan itu. big hug juga u onty qiah

  16. Lia Djabir

    November 27, 2016 at 5:56 am

    amiiin yra…smoga si janin sehat2 juga yaa ampe lahir

  17. alfulaila

    November 26, 2016 at 4:42 am

    Terharuku kak liaa :') semoga Alji selalu sehat-sehat ya kak..kita juga 😘

  18. Zilqiah Angraini

    November 26, 2016 at 4:42 am

    Kakk Liaaaaa… terharuu bacanya
    Yup kadang kita pengen selalu jd sempirma sesempurna teorinyg qt baca sampai lipa bahagiakan diri, padahal sememangnya yg dibutuhkan adalah menjadi bahagia…
    big hug for alji 😘

  19. iRa

    November 26, 2016 at 4:42 am

    Ternyata semakin berumur semakin mengagumkan #eh

  20. Eryvia Maronie

    November 26, 2016 at 4:42 am

    Karena cantik itu bukan hanya pada tampilan fisik 🙂

  21. dweedy ananta

    November 26, 2016 at 4:42 am

    Aduh saya mi itu juga kak dak sempat merawat diri (muka khusunya) semanjak jadi ibu. Hikssss *eh malah curcol*

    Semoga menang ya kak 😊

  22. Ika Hardiyan Aksari

    November 26, 2016 at 4:42 am

    Si kembar, lucunyaaaa…
    Nggak bisa ngebayangin saat PPD itu hadir Mbak. Aku aja yang luka jahitan di alat kelamin nggak sembuh2 udah stressss bgt. Ah, setiap ibu emmang punya cerita tersendiri ya saat melahirkan.
    Tapi ku tahu, dirimu stroooonggg bgt.

  23. Bunda

    November 26, 2016 at 4:42 am

    Bu lia memang bukan bunda yg sempurna, karena memang tidak ada ibu yg sempurna di dunia ini.

  24. Ndy Pada

    November 26, 2016 at 4:42 am

    Saya sempat post partum syndrome jg kak, beberapa hari setelah lahiran. Untungnya gak begitu lama, alhamdulillah bisa terlalui. Sekarang pengen punya baby lagiii..
    #eh kok malah curcol.

    Thanks for sharing kak lia. Inspiring!

  25. Sandra

    November 26, 2016 at 4:42 am

    Keren Lia! menemukan support grup dan teman2 yang bisa diajak sharing dari A-Z emang bantu banget, tanpa ada judgment apapun & ngga bikin kita jadi merasa ibu yg paling buruk sedunia 🙂

Leave a Reply