Adat pernikahan Bugis Makassar yang kamu harus tahu

Untuk orang Bugis Makassar, Pernikahan tidak hanya persatuan 2 mempelai tetapi merupakan persatuan 2 buah keluarga besar. Oleh karena itu, pada jaman dahulu kala, bibit bebet bobot masih memegang peranan penting dalam melaksanakan pernikahan untuk orang Bugis Makassar. Seringkali orang tua pihak laki-lakilah yang mencarikan jodoh untuk anaknya. Mereka akan mencari gadis dari keluarga yang dianggap sederajat.

Namun di jaman modern ini, telah terjadi pergeseran. Nilai-nilai yang dianut di jaman dahulu kala mulai banyak bergeser. Semua karena menyesuaikan dengan perkembangan jaman. Termasuk dalam upacara adat pernikahan Bugis Makassar. Banyak ritual-ritual yang dulu digunakan untuk membedakan derajat keningratan seseorang kini tidak berlaku lagi. Semua orang bisa menggunakannya tanpa peduli silsilah keturunan dari keluarga calon pengantin.

Begitu juga tahapan-tahapan saat hendak melaksanakan pernikahan. Sebahagian masyarakat memilih untuk melewati tahapan-tahapan yang dianggap kurang penting. Sedangkan sebahagian lagi masih menjalankan tahapan-tahapan tersebut secara detail karena masih menjunjung tradisi.

Baca juga : 5 Keunikan pantai Losari, Makassar

Berikut ini merupakan tahapan-tahapan pernikahan dari mulai melamar hingga pernikahan selesai:

Mammanu-manu’ dan Madduta

Mammanu’-manu’ merupakan tahap awal dalam persiapan pernikahan adat Bugis Makassar. Jaman dahulu kala, Mammanu’manu merupakan kegiatan yang dilakukan oleh pihak keluarga laki-laki untuk menyelidiki status dari gadis yang hendak dipinang. Kegiatan tersebut untuk memastikan apakah gadis tersebut sudah terikat atau belum. Selain itu, diselidiki juga apakah sang gadis sesuai bibit bebet bobotnya. Biasanya Mammanu-manu di wakili oleh perempuan dari keluarga laki-laki yang dianggap mampu untuk melakukan hal tersebut.Jika belum terikat, maka dilanjutkan oleh Madduta untuk menyampaikan lamaran. Setelah lamaran diterima oleh pihak keluarga wanita, akan ada perwakilan keluarga yang membicarakan mengenai tanggal pernikahan, mahar dan lain-lain. Orang yang ditunjuk harus orang yang mampu berbicara dan bernegoisasi agar tidak terjadi kesalahpahaman dan kesepakatan bisa tercapai dengan baik.

Di jaman modern ini, Mammanu’-manu , Madduta dan pembicaraan lanjutan masih dilakukan oleh segelintir masyarakat tetapi dengan lebih ringkas. Biasanya semuanya sudah digabung menjadi satu agar lebih efisien.

Mappetuada

Setelah tahap Mammanu’-manu’ dan Madutta selesai, dilanjutkan dengan tahap Mappetuada. Acara Mappetuada ini bertujuan untuk mengumumkan apa yang telah disepakati sebelumnya mengenai tanggal pernikahan, mahar dan lain-lain. Biasanya di Mappetuada, pinangan diresmikan dengan diberikan hantaran berupa perhiasan kepada pihak wanita.

Di Mappetuada, di tanda tangani kesepakatan berupa kapan rencana pernikahan dilaksanakan

Mappaisseng dan Mappatuselleng

Mappaisseng merupakan proses pemberitahuan kepada pihak kerabat dan tokoh masyarakat yang dituakan tentang rencana pernikahan ini. Melalui pemberitahuan ini, diharapkan bantuan dari pihak kerabat dan juga tokoh masyarakat untuk membantu pelaksanaan pernikahan Bugis Makassar. Sedangkan Mappatuselleng merupakan proses penyebaran undangan secara resmi kepada pihak Tokoh Masyarakat, keluarga besar dan juga relasi keluarga. Penyebaran undangan secara resmi ini juga ada tata caranya. Biasanya , akan dipilih beberapa orang Tokoh Masyarakat atau keluarga yang dituakan sebagai orang-orang pertama yang akan menerima undangan resmi tersebut. Pemasangan Baruga sebagai tanda akan dilaksanakan hajatan dilakukan disini.

Baruga

Baca juga: Festival F8 Makassar

Mappasau botting dan Mappasili

Kegiatan Mappasau Botting atau menguapkan pengantin bertujuan untuk mempercantik calon pengantin. Kegiatan ini biasanya dilakukan 3 hari berturut-turut sebelum Mappasili. Mappasau botting di jaman modern ini seperti mandi uap dengan rempah-rempah yang telah dicampur. Sebelum mandi uap, pengantin wanita melakukan ritual lulur lotong yang terbuat dari beras hitam dicampur dengan rempah-rempah terpilih.

Mappasau. Calon pengantin duduk di dalam kurungan sarung sementara uap rempah-rempah dialirkan dari bawah
Pemusik tradisional yang selalu mengiringi setiap ritual acara

Mappasili sendiri merupakan prosesi siraman. Prosesi siraman ini bertujuan untuk tolak bala dan membersihkan calon mempelai lahir dan batin. Biasanya air siraman atau Mappasili diambil dari 7 mata air dan juga berisi 7 macam bunga. Selain itu terdapat juga koin di dalam air Mappasili.

Selesai Mappasili, tamu undangan yang hadir akan berebut koin yang terdapat di dalam air Mappasili. Koin yang di dapatkan akan diberikan kepada anaknya yang belum menikah. Ada kepercayaan di orang-orang Bugis Makassar kalau anaknya akan mudah mendapatkan jodoh setelah memiliki koin tersebut. Selain itu, saudara dan sepupu dari calon mempelai yang belum menikah biasanya akan ikut dimandikan setelah calon mempelai selesai. Semua itu dilakukan agar saudara dan sepupu dari calon mempelai juga menjadi enteng jodoh.

mappasili bugis makassar
tempat melaksanakan Mappasili
mappasili bugis makassar
Air dan persyaratan untuk melaksanakan ritual Mappasili

Macekko, Mappanre temme, dan Mapacci

Macekko merupakan ritual membersihkan bulu-bulu halus yang terdapat di dahi namun hal ini sudah sangat jarang dilakukan oleh calon pengantin. Setelah Macekko, dilanjutkan oleh Mappanre temme.Mappanre temme merupakan ritual khatam Al Quran dan juga permohonan doa kepada Allah SWT agar rencana pernikahan ini berjalan lancar.

Pelaminan (Lamming) selama acara Mapacci dan akad nikah. Sementara itu yang berwarna merah merupakan bosara yang berisi kue-kue
Mappenre temme

Mappaci merupakan ritual adat sesudah Mappanre temme. Mapacci sendiri bisa diartikan memberikan daun pacar ke calon mempelai sebagai bentuk doa restu. Biasanya jumlah orang yang diundang untuk memberikan daun pacar tersebut tergantung status social calon mempelai. Orang-orang yang dipanggilpun biasanya pasangan yang pernikahannya bahagia dan kedudukan sosialnya baik. Semua itu dimaksudkan agar calon mempelai kelak bisa mengikuti jejak pasangan tersebut.

Mappacci
Perlengkapan Mappacci berupa sarung 7 susun sesuai derajat keningratan, daun pisang, daun pacar yg ditumbuk, rokok, benno, dll
Pemberian daun pacar sebagai tanda pemberian restu dan doa

Akad Nikah

Di jaman dahulu kala, calon mempelai pria datang ke rumah calon mempelai wanita hanya ditemani kerabat dan tokoh masyarakat. Kedua orang tua mempelai pria tidak akan ikut serta. Calon mempelai pria akan membawa mahar, uang pa’naik, seserahan berupa perlengkapan pribadi dan juga kue-kue.

Mahar, uang Panaik, dan seserahan

Karena Sebagian besar orang Bugis Makassar merupakan penganut agama Islam maka pelaksanaan akad nikahpun dilakukan dengan cara islam. Yang berbeda yaitu saat melakukan ijab Kabul, calon mempelai wanita tidak hadir disamping calon mempelai pria. Calon mempelai wanita hanya menunggu di kamar pengantin hingga acara ijab Kabul selesai. Makanya jangan sampai salah sebut nama yaa…karena nanti bisa menikah dengan orang yang berbeda #ehh

Mempelai pria melakukan ijab kabul bersama wali pengantin sementara mempelai wanita menunggu di kamar

Selesai ijab Kabul, mempelai pria akan dibimbing untuk masuk ke kamar pengantin dan bertemu dengan istrinya secara resmi. Sebelum memasuki kamar, biasanya ada ritual ketuk pintu. Ketuk pintu ini dimaksudkan untuk meminta ijin ke pihak keluarga mempelai wanita agar diperbolehkan masuk. setelah memasuki kamar, kemudian dilakukan ritual Mappasikarawa. Mappasikarawa merupakan sentuhan pertama dari suami ke istrinya. Sentuhan ini biasanya dilakukan dengan menyentuh ubun-ubun, pundak, dada atau perut. Biasanya… sentuhan tersebut lebih disukai ke pundak yang melambangkan hubungan sejajar antara suami dan istri di dalam rumah tangga.

Tradisi buka pintu. Sebelum memasuki kamar mempelai wanita, pihak keluarga pria akan mengetuk pintu dan membayar uang ijin untuk memasuki kamar mempelai wanita
Pemakaian sarung yang kemudian dijahit menandakan agar pasangan yang baru menikah terus bersatu dalam semua cobaan

Setelah ritual Mappasikarawa selesai, dilanjut dengan sungkem kepada orang tua dan juga keluarga yang dituakan dari mempelai wanita.

Setelah acara Mappasikarawa, pengantin wanita baru keluar kamar dan duduk di pelaminan ditemani Paseppi

Baca juga : Hotel Rinra Makassar

Marola atau Mapparola

Marola atau Mapparola merupakan kunjungan mempelai wanita ke rumah orang tua mempelai pria. Mempelai wanita datang ditemani iring-iringan dari keluarga mempelai wanita. Mempelai wanita juga membawa seserahan berupa perlengkapan pribadi dan kue-kue untuk mempelai pria. Kunjungan ini sangat penting bagi masyarakat Bugis Makassar karena kunjungan tersebut menandakan kalau mempelai wanita diterima dengan baik di keluarga mempelai pria. Di Mapparola inilah, mempelai kembali sungkem kepada orang tua dan kerabat yang dituakan dari mempelai pria. Setelah acara Marola atau Mapparola selesai, kedua mempelai akan kembali ke rumah mempelai wanita.

Mapparola. Pihak wanita membalas membawa seserahan ke rumah pihak pria

Dahulu kala, hal-hal seperti banyaknya jumlah seserahan, jumlah mahar, uang panaik dan beberapa hal lainnya, semuanya dilaksanakan berdasarkan derajat keningratan dari pihak mempelai wanita. Namun semua itu sudah banyak berubah semenjak jaman modern ini. Ritual-ritual yang dianggap kurang penting dihilangkan demi efisiensi waktu dan biaya.

baju bodo bugis makassar
Baju bodo’

Jadi inilah adat pernikahan Bugis Makassar yang kamu harus tau. Siapatau yang masih single berencana menikah dengan orang Bugis Makassar 🙂 be te we…Ritual mana menurut kamu yang paling menarik? Ceritain yaa di bagian komen

 

 

 

15 Comments

  1. Ifa

    November 14, 2017 at 12:10 pm

    Meski lahir di sulsel, saya belum pernah menyaksikan prosesi pernikahan bugis-makassar yang lengkap, hehehe. Terima kasih infonya, kak. Visualisasinya juga dapat jadi asyik dibaca sampai akhir 😊

  2. Yesi elsandra

    November 12, 2017 at 3:27 pm

    Wah keren, mau juga punya menantu orang Makasar, hehe…

  3. Alfu laila

    November 9, 2017 at 12:27 am

    Bangga banget sama adat daerah saya sendiri, walaupun waktu nikah saya malah ga lakonin ini.. Huhu

  4. Helena

    November 8, 2017 at 10:58 pm

    Kompleks yaa prosesi pernikahan Bugis. Selama ini aku pernah datang ke Mappaci dan Mapparola aja.

  5. mutianafiza

    November 8, 2017 at 10:49 pm

    Wowww kerennya kak lia, patut memang dilestarikan budaya Indonesia yg sebenarnya sangat sarat dengan makna-makna tertentu.

    1. Lia Djabir

      November 8, 2017 at 11:14 pm

      bener banget mba. biar generasi muda juga tau

  6. Nchie Hanie

    November 8, 2017 at 6:22 pm

    waah..baru aja temenku orang makasar menikah, yang katanya pake adat bugis ini. Serunya ya pernikahan adat tradisional kaya akan makna. Sebagai orang jawa, nikahanku campuran adat jawa dan sunda, sebenernya intinya sama aja, cuma beda nama. Melelahkan ya, tapi kesakralannya itu loh ga bisa dilupakan seumur hidup.
    Aku suka baju bodonya, warna2 gonjreng, ngecenk sarungnyaa hihiih

    1. Lia Djabir

      November 8, 2017 at 11:11 pm

      kalau di bugis makassar malah gak pernah nikah pake baju bodo putih mba. pasti warna warni gonjreng hehe

  7. Eni Martini

    November 8, 2017 at 2:18 pm

    Indaaaah banget kekayaan Indonesia

  8. andyhardiyanti

    November 8, 2017 at 12:05 pm

    Saya belum pernah menghadiri yang proses lengkap seperti ini. Ribet juga rupanya ya.. 20 tahun tinggal di Makassar paling hanyak 2-3 bagian acara saja yang benar-benar saya saksikan.

    1. Lia Djabir

      November 8, 2017 at 11:13 pm

      sudah jarang kok mba yg melaksanakan rangkaian lengkap acara ini. biasanya yg penting2 aja

  9. ZILQIAH

    November 7, 2017 at 2:34 pm

    panjang memang prosesi nya dii gak kalah sama Pernikahan Jawa hihihi dan semua prosesi sarat makna dan doa untuk calon mempelai nya .
    ah kak Lia cantiiknya pakai baju bodo dan sanggul bgitu <3

    1. Lia Djabir

      November 8, 2017 at 11:13 pm

      tenkyu say

  10. Ndy Pada

    October 31, 2017 at 11:22 am

    Setiap prosesi dalam upacara pernikahan di Bugis dan Makassar sarat makna dan pesan-pesan moral untuk kedua mempelai. Keren kak ulasan dan foto-fotonya 🙂

    1. Lia Djabir

      November 8, 2017 at 11:12 pm

      iyaa…sayangnya banyak orang muda yang sudah tidak peduli sama rangkaian prosesi ini

Makasi sudah membaca dan memberikan komen di tulisan saya. It means a lot to me biar makin semangat nulis. Please bantu share tulisan ini, siapatau tulisan ini bermanfaat untuk orang lain yang membutuhkannya.

%d bloggers like this: